Feeds:
Pos
Komentar

History of seventeen

SEVENTEEN BAND kini memang tak lagi berisi anak-anak muda belasan tahun yang “nekat” berkarya karena ingin berekpresi soal cinta, kegelisahan dan kesedihan. Kini, band asal Jogjakarta ini merevolusi dirinya sendiri, dengan tampilan yang lebih matang dan dewasa.

Sebenarnya, band yang lahir 17 Januari 1999 ini tak tergolong band baru. Di ranah musik pop, Seventeen sudah melahirkan 2 album yang terhitung lumayan. Tidak meledak banget, tapi membuat penikmat musik Indonesia sempat menoleh.

Kala itu, selain Bani (bass), Andi (drum), Yudhi (gitar), dan Herman (gitar), divisi vokal masih diisi line-up Doni. Bareng Doni, Seventeen sempat menelorkan dua album [Bintang Terpilih & Sweet Seventeen].

Bertapa 3 tahun, ternyata membawa banyak perubahan internal band yang beberapa lagunya sempat menjadi theme-song beberapa sinetron di televisi swasta. Perubahan itu terasa sekali pada
personil yang kini mengisi Seventeen. Doni, frontman yang seolah menjadi ikon, memilih mundur. Kemudian tidak ada lagi nama Andi di posisi drum.

Mundurnya Doni, memang menjadi “keribetan” sendiri. Selain banyak mencipta lagu di album sebelumnya, karakter vokal Doni sudah ngeblend banget dengan Seventeen. Alhasil, ketika melakukan audisi, personil lainnya sempat ketar-ketir sebelum akhirnya menemukan Ifan, cowok asal Pontianak, sebagai vokalis.

Ifan pula yang didapuk sebagai vokalis di album ketiga bertajuk ‘LELAKI HEBAT’ [2008]. Ada perbedaan karakter yang kental. Doni berkarakter rock dengan aksentuasi serak yang khas, sementara Ifan lebih ngepop banget dengan ornamen melayu. Jadilah album ketiga ini, pop habis.

Album ini, SEVENTEEN menjagokan single ‘Selalu Mengalah’ yang terdengar lebih fresh dan ngepop dibanding track album sebelumnya. Oh ya, ketika merilis album, band Jogjakarta ini memilih “sarangnya” pembajak di Glodok. Bukan cari sensasi, tapi karena mereka gemas dan sebel dengan ulah pembajak itu. SEVENTEEN sangat sadar, kalau usai rilis album, tiba-tiba saja albumnya sudah da di lapak-lapak di Glodok. “Itu sudah kita antipasi, meski susah mencegahnya paling tidak kita sudah melakukan aksi,” kata Yudhi kepada RILEKS.COM, usai acara.

SEVENTEEN memang sedang “bertaruh” dengan keberuntungan. Menjadi band medioker tentu bukan harapan mereka. Tapi kalau memang kudu berkutat dilevelan itu, SEVENTEEN mengaku akan tetap berkarya. [joko/foto: istimewa]

sejarah band krispatih

KEJUJURAN HATI

Dengan dilirisnya album Kejujuran Hati, maka lengkap sudah langkah awal grup musik KERISPATIH di tengah industri musik Tanah Air. Sebelumnya, grup musik yang digawangi oleh Sammy (lead vocal), Badai (piano, synthesizer, voices), Andika (bass, voices), Arief (electric-acoustic guitar, voices) dan Anton (drum) ini, sempat mencuri perhatian lewat dua lagu mereka (Lupakan Aku dan Sebentuk Hati buat Kekasih) dalam album “Gulalikustik” (album kompilasi) produksi Nagaswara – 2004.
Album Kejujuran Hati (masih di bawah bendera Nagaswara), bagi KERISPATIH tak ubahnya sebuah medium, dimana grup musik yang sering bereksperimen dengan instrumen etnik ini ingin menorehkan warna musik ala mereka yang groovy dan romantis. Kebersamaan yang telah lama mereka bangun dengan Maha Patih (sebutan akrab fans KERISPATIH), pun hendak ditularkan kepada penikmat musik Indonesia dalam cakupan yang lebih luas.Tentu semuanya dimulai dari Kejujuran Hati, begitu tekad mereka dalam bermusik.
Album yang penggarapannya memakan waktu sekitar satu tahun ini, meski keseluruhan lagu disajikan dalam melodi-melodi manis yang harmony, para pemusik jebolan mahasiswa di Institut Musisi Indonesia ini tak bisa menghindar untuk menjagokan tembang “Kejujuran Hati” sebagai hit single pertama (yang diambil menjadi titel album). Vokal Sammy yang renyah, terasa catchy dengan balutan musik yang enerjik. Lewat lagu ini pula, dapat dipastikan, KERISPATIH akan menunjukkan eksistensi mereka yang jauh berbeda dari grup-grup musik pendahulunya.
Gaya bermusik mereka yang romantis dan classy di album ini, menjadikan album Kejujuran Hati berkesan exsclusive, karena pada lagu lainnya, musikalisasi KERISPATIH hadir sungguh menyentuh telinga dan hati. Sehingga harmonisasi antara musik dan karakter vokal Sammy yang khas, tak urung membuat album ini matang dalam pemilihan konsep. Secara keseluruhan, album Kejujuran Hati adalah sebuah album yang sarat warna. Warna-warni yang layak membuka pintu kesuksesan mereka di tengah ketatnya persaingan industri musik Indonesia, Two thumbs up !!

KENYATAAN PERASAAN

Tidak bisa dipungkiri, bahwa kehadiran band bentukan 23 April 2003 ini, telah memberikan pencerahan bagi scene musik dalam negeri. Racikan manis ala Sammy (vokal), Arief (electric & acoustic guitar), Andika (bass), Badai (piano, synthesizer/vokal) serta Anton (drums), berhasil mencuri perhatian penikmat musik tanah air.
Lagu-lagu seperti Kejujuran Hati, Hanya Kamu Yang Bisa, Lagu Rindu, Cinta Putih, serta Pertama Dan Terakhir, mampu meluluhkan hati siapa pun yang mendengarnya. So, nggak usah heran kalo album debutnya direspon positif oleh pendengarnya yang berimbas pada sederet penghargaan yang diraihnya. Diantaranya, Pendatang Baru Terbaik Pilihan pembaca Majalah HAI 2005, Album Pendatang Baru Ngetop di ajang SCTV Music Award 2006 dan Most Favorite New Artist di ajang MTV Indonesia Music Award 2005.
“Kita datang dari label yang nggak besar. Ketika responnya sangat positif hingga mendapat penghargaan, kita bangga banget. Soalnya pesaingnya datang dari label besar dan udah dikenal pula. Jadi dengan mendapat penghargaan, hal ini malah bikin kita lebih semangat lagi untuk menghasilkan karya yang lebih baik,” ungkap Sammy, vokalis berkarakter ini.
Setelah meraih popularitas dan mampu mengharu birukan konser musik berbagai kota besar di Indonesia, lima anak muda jebolan Institut Musisi Indonesia ini kembali dengan membawa cerita baru lewat album teranyarnya, Kenyataan Perasaan. Album yang dibuat memakan waktu hingga 1 tahun ini, boleh dibilang amat spesial dan unik. “Album kedua ini, kita persiapkan tidak dengan keburu-buruan, santai aja, tapi tetap fokus pada tema. Mulai dari judulnya, instrumen yang masuk hingga pernak-pernik lainnya. Karena kita kepingin album ini terkesan beda, pop yang eksklusif, elegan dan megah,” jelas keybordist berkaca mata, Badai.
Sesuai dengan apa yang diungkapkan Badai tentang musikalitas albumnya, mereka mengemas single andalan Mengenangmu, jadi sangat indah dan megah. “Lagu itu merupakan cerita cinta temen kampus gue yang ditinggal pergi jauh sama pacarnya. Padahal dia ini mau menikah. Berhubung udah nggak ada di dunia, si cowok kepingin banget berjumpa lagi sama calon istrinya itu, di dunia lain. Cerita se-dramatis itu, indahnya dinyanyikan dengan hati, dan sentuhan lagu yang megah, dong,” jelas Arief. Menurut Arief, kemegahan lagu ini terletak pada reffrain-nya yang kaya akan variasi sound. Ada brass dan string section, akordion, perkusi hingga choir-nya. Komplit banget!
Musikalitas yang komplit akan sound yang menarik bisa disimak juga pada nomor-nomor hebat lainnya. Seperti Dan Ternyata dan Tapi Bukan Aku.” Dua lagu itu juga nggak kalah seru, liriknya tentang cinta,” sergahnya. Lagu menarik lainnya bisa dikulik pada nomor Kita Dan Dunia. Dimana lagu ini menceritakan tentang bencana alam yang kerap melanda negeri ini serta, ungkapan rasa sayang pada seorang ibunda, Sebuah Pengabdian (Bunda).
Dalam proses kreatifnya, album ini melibatkan nama-nama kondang dibidangnya. Diantaranya. Ada Rejos ‘The Groove’ (perkusi), Riza Arshad (accordion), Oni (Sa’unine Orchestra) dan Effatha Choir. Kehadiran mereka pun udah pasti melengkapi sisi romantisme album yang dibentangkan Sammy cs. “Di album ini, kita berharap terus konsisten dalam bermusik. Dan pendengar pun paham akan musik-nya Kerispatih,” tutup gitaris ramah senyum ini. Hmmm…penasaran kan sama racikan manis ala band yang sempat diganjar platinum award berkat penjualan lebih dari 200 ribu copy? Here they are….

TAK LEKANG OLEH WAKTU

Konsepsi musikal yang tertuang dalam wujud musik Kerispatih tidaklah memamerkan detil teknikal, mereka hanya mengedepankan kebisaan mereka dalam menguasai masing-masing instrumen. Walau mereka bisa, namun yang paling utama disampikan oleh Sammy (lead vocal), Badai (piano, synthesizer, voices), Andika (bass, voices), Arief (electric-acoustic guitar, voices) dan Anton (drum) lima anak muda jebolan Institut Musisi Indonesia adalah harmoni yang bersumber pada nada-nada pop yang mudah diterima oleh khalayak. Itu pula yang ingin disampaikan oleh Kerispatih di album penuh ketiga mereka lewat tajuk, Tak Lekang Oleh Waktu yang masih kerjasama dengan Nagaswara.
Band penuh daya ledak pop membius yang pertama dikenal lewat single “Lupakan Aku” dan “Sebentuk Hati buat Kekasih” yang tertuang dalam album kompilasi Gulalikustik, album produksi Nagaswara di 2004 ini mengaku album ketiga mereka ini merupakan penyempurna dari dua album mereka sebelumnya, Kejujuran Hati (2005) dan Kenyataaan Perasaan (2007). “Jika album pertama dulu masih penjajakan, kemudian album kedua ini masih mencari jati diri. Maka album ketiga ini kami sudah menemukan apa yang kami mau. Oleh karena itu kami sangat berharap sekali album ini dapat diterima oleh semua kalangan yang tak terbatas. Lagu kualitas masih mengedepankan pada bagian reff yang mudah diingat dan cathy plus semua faktor pendukung kelayakan sebuah karya pop,” ujar Badai, sang mastermind dari album Kerispatih.
Jika kita simak bersama lagu “Bila Rasaku Ini Rasamu” yang didaulat menjadi single perdana untuk menyapa penikmat musik tanah air maka jejak jelas dari musik Kerispatih jelas tertuang indah. Lagu yang bercerita tentang harapan akan sebuah nilai cinta ini mengalun indah dengan ketukan ritmis dan komposisi yang berpotensi mendulang request di banyak radio dan akan menjadi media darling terbaru dari setlit milik band asal Jakarta ini. Jika kita kemudian menyimak komposisi lain, “Kesalahan Yang Sama” jelas arah dan tujuan Kerispatih makin terbuka jelas. Sebuah balada lain yang mengalun gagah dengan tempo sedang menjadi estafet lagu romantis lain.
Lagu lain seperti “Maaf!!! Aku Terlalu Mencintainya” dan “Ada Aku Disini” akan memberi wacana berbeda terhadap band ini, di dua lagu ini kita akan menyimak dimensi lain dari musikalitas mereka. Sebuah cara pandang baru akan terbuka lebar, bahwa Kerispatih tidak hanya piawai dalam melakonkan balada sebagai andalan mereka. Lagu dengan skill yang memikat nan dinamis tampil variatif dengan unsur gitar dan sequencer yang tebal. Jika biasanya Kerispatih mendapat pencerahan ide dari Toto, untuk album ini mereka mendapat banyak masukan sound dan ide dari Aeromisth, Snow Patrol, Keane, dan Chicago. Secara kualitas kord dan putaran lagu Kerispatih mengakui mendapat masukan sound yang lebar dari band Chicago.
Kerispatih mengakui di album ini mereka masih bermain dalam wilayah cinta dan cinta untuk urusan lirik. Tapi cinta yang mereka kerahkan bermuara dari ragam ide, sebutlah disini tentang wanita yang suka balikin perasaan, selingkuh, atau cinta tak terbalas. Yang membedakan adalah, jika lirik pada kedua album sebelumnya lebih personal maka di album ini lirik lebih luas dengan mengambil ambience yang lebih lebar.
Jika itu yang dimaksud oleh Kerispatih maka lagu “Masih Ada” akan menjawab apa yang mereka tuangkan di album ini. Balada yang penuh racun dengan aksentuasi intro berupa ketukan yang dipastikan akan menjadi signature yang mudah dikenal dan diingat. Vokal utama Sammy sudah begitu lekat dan menyatu dengan karakter musik Kerispatih. Ini yang menjadi modal besar sebuah band. Memiliki ciri khas tertentu yang tak dimiliki band lain.
Album Tak Lekang Oleh Waktu diakui Kerispatih menjadi penyempurna dari dua album mereka sebelumnya. Dan album ini akan menjadi masterpiece dari trilogy musikalitas Kerispatih. Banyak hal yang masuk dalam pikiran mereka yang akhirnya bisa tertuang secara maksimal di album ini.
Jika kita harus jujur, musik Kerispatih memang selalu abadi dan terus ada tak lekang oleh waktu…

kuburan band

KUBURAN band terbentuk pada tahun tahun 2001. Awalnya, kuburan bermusik di jalur Independen (indie). Tahun 2006 lalu, mereka dengan berbagai rintangan, keberanian dan keyakinan, melepaskan album perdananya yang bertajuk ‘Greatest Hits Vol.2′.

Di album ini berisikan 14 lagu dengan berbagai jenis musik, mulai dari DANGKER (dangdut Keras) hingga musik Kolosal. Personil KUBURAN pada album ini adalah Rully ( Penyanyi Inti ) , Iqbal (Vokalis Utama) , Urie ( Pelantun Tembang ) , Dino (Pemukul Dramer ) , Raka (Pemain Gitaris ) , Denny ( TheBassistman ) , DOnny ( Gitar is Melodi ) , Udhe ( Kiboran ).

Sukses melambungkan karya-karya mereka diantaranya A Letter To Euis , Tua Tua Klabing (feat.Ratu Akay) , 23 Tahun , Kembang Sekolah , Urie Udah Gede dan lain- lain , sanggup merangsang minat masyarakat ramai untuk berapresiasi dalam musik multigenre ini .

KUBURAN mampu menyuguhkan aksi panggung dan musikalitas yang tidak main-main tetapi menghibur dengan komunikasi dua arah yang terpadu , make up dan busana yang terkesan eksentrik dan tarian , akan selalu hadir dalam rangkaian aksi KUBURAN dalam pentas.

Tahun 2008, Rully, Iqbal, Urie menjadi alumnus KUBURAN dengan nilai Cum Laude. Saatnya transfer vokalis baru. Pada tahun 2009 , KUBURAN akan menelurkan album ke-2 yang bertitel : ” BOOMING!!! Be Are The Kill Young Pen Think Gun Thank”

Dibawah naungan Waybe Music Indonesia. Album ini berisikan 10 lagu yang ciamik , matang, dan tetap terpadu. Personil pada album ini adalah Priya ( Ujung Tombak ) , Dino (Pemukul Dramer ) , Raka (Pemain Gitaris ) , Denny
( TheBassistman ) , DOnny ( Gitar is melodi ) , Udhe
( Kiboran ).

Disamping mengapresiasikan kesenian pada seni musik , KUBURAN pun memiliki misi sosial dengan slogan atau moto – moto yang selalu disampaikan pada saat pentas , diantaranya Jauhi Narkoba Utamakan Keluarga , Budayakan bersedekah Minimal Donor Darah , dan Brutal tapi Taqwa

Kagen band

sejarah kangen band

Akhir akhir ini Kangen Band semakin diguncang prahara setelah sebuah lagu berirama rap beredar yang isinya cacian dan makian kepada band asal Lampung ini.
Kita semua tahu bahwa banyak yang tidak suka dengan musik maupun penampilan band ini tetapi lebih banyak lagi yang suka. Itu soal biasa, suka dan tidak suka tapi kenapa yang ini jadi lain dan mulai memprihatinkan.

Sebelum lebih jauh lagi mari kita lihat dulu sejarahnya Kangen Band ini. Berasal dari Lampung dan digawangi oleh personel yang katanya berasal dari kaum marginal. Sekitar September 2006 rekaman album bajakannya beredar luas dan mengalahkan penjualan bajakan dari band yang sudah besar seperti Peterpan.

Oleh pelaku industri rekaman band ini diperlakukan sama dengan band top lainnya. Musiknya masuk rekaman dibawah major label, dibuatkan video klip, masuk TV, digelar show show bahkan pernah jadi bintang tamu acara talkshow populer Empat Mata.

Naluri bisnis para pelaku industri rekaman ini tidak meleset. Penjualan kasetnya laris manis hingga kini sudah mencapai 500 ribu copy lebih. Tentu pelaku bisnis senang, Kangen Band dan kru juga ikut senang. Apakah semua orang senang? Ternyata tidak.

Bagi orang orang yang mengatasnamakan bisnis tidak ada yang salah dengan Kangen Band. Tapi bagi kaum musisi terutama dari genre pop fenomena ini justru suatu langkah mundur buat musik Indonesia. Menurut kalangan musisi dan penikmat musik pop yang berkeberatan: musikalitas dari Kangen Band kurang greget dan menurunkan kualitas musik Indonesia khususnya pop.

Sampai disini kita bisa lihat ada dua kubu yang berseberangan yakni kubu pro dari Industri musik dan Kangen Band sendiri kemudian kubu kontra dari kalangan musisi. Sementara itu ada satu kubu walaupun sedikit banyak punya keberpihakan tapi pada dasarnya mereka ini netral yaitu pendengar musik pop pada umumnya.

Para pelaku industri musik jelas kepentingannya adalah bisnis yang tanggung jawabnya adalah mencari keuntungan sedangkan para musisi kepentingannya adalah musikalitas itu sendiri yang tanggung jawabnya adalah memajukan khazanah musik Indonesia.

Kaum musisi berkeberatan kualitas musik Indonesia dikorbankan demi untuk keuntungan bisnis. Mereka merasa dilecehkan apalagi melihat Kangen Band mulai menuai Award.

Kalau hanya sampai disini masih akan terasa normatif saja pertentangan ini. Kenyataannya para penikmat musik yang “netral” itu menunjukan perilaku yang membuat pelaku bisnis bereaksi secara alamiah untuk mencari keuntungan. Keadaan ini membuat pertentangan semakin panas dan memicu aksi beberapa kaum kontra yang mulai gerah dan tidak tahan.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu terjadi polemik nasional pada musik dangdut yang menampilkan fenomena Idul Daratista dengan goyang ngebornya yang kontroversial itu. Kubu yang menentang adalah Rhoma Irama dkk. Pada awalnya Inul tidak terlalu menarik simpati karena musikalitasnya bagi para penikmat dangdut juga tidak terlalu menarik dan memang sampai sekarang tidak ada singlenya yang melekat dihati penikmat dangdut selain goyang ngebornya itu.

Tapi karena Rhoma Irama sebagai pemimpin kaum kontra Goyang Ngebor yang bertindak terlampau demonstratif membuat simpati penikmat musik yang “netral” dan sangat fluid itu menjadi berubah. Yang semula biasa biasa saja menjadi pro Inul karena bersimpati dengan figur yang teraniaya.

Bahkan saking dahsyatnya fenomena Inul itu sampai melibatkan penikmat musik dari genre yang lain selain dangdut. Banyak penikmat musik pop yang mengaku bahwa sebelumnya mereka tidak suka dangdut tapi setelah melihat Inul mereka jadi suka dangdut. Sungguh dahsyat dan bukan tidak mungkin perilaku yang sama juga terjadi pada fenomena Kangen Band kali ini, artinya dulu orang yang tidak terlalu suka akhirnya menjadi suka karena simpati.

Perlu diwaspadai untuk tidak bertindak berlebihan hingga bisa menimbulkan kesan Kangen Band teraniaya. Beredarnya musik rap yang penuh cacian dan makian terhadap Kangen Band sungguh suatu tindakan yang kontra produktif. Itu akan mengundang reaksi simpati kepada Kangen Band yang bisa membutakan kenyataan bahwa musikalitas Kangen Band memang kurang memiliki greget.

Orang orang yang bersimpati akan mendengar musik Kangen Band dengan semangat apologetic. Kalau sudah demikian maka sulit sekali menempatkan duduk persoalannya pada tempat yang benar.

Saya sendiri tidak suka dengan musik Kangen Band tapi itu bukan alasan untuk membenarkan saya mencaci maki mereka. Santai sajalah kalau memang tidak suka. Bagi saya Kangen Band bukan harga mati, siapa tahu mereka berubah bisa bikin musik lebih baik lagi.

Sudah sejauh ini saya masih belum masuk ke subtansi permasalahan kenapa Kangen Band disukai dan tidak disukai. Itu (selera musik) merupakan misteri. Bagaimana selera penikmat musik Indonesia tidak bisa didefinisikan tapi bisa diarahkan seperti yang kita lihat berikut ini.

Ketika tahun 80an dimana ada musik berkualitas seperti Fariz RM, Dian Pramana Putra, Vina Panduwinata, Iwan Fals, atau Chrisye tapi juga ada musik yang kurang berkualitas seperti musiknya RH, OM, TJP, AP… ah tidak usahlah saya sebutkan namanya, tidak enak.

Era 90an musik musik yang kurang berkualitas mulai tenggelam dan perhatian mulai ke musisi muda yang berbakat dan menghasilkan musik yang bagus seperti Kla Project, Kahitna, Slank, Dewa19, PADI dst.

Apalagi kemudian era 2000an dimana banyak sekali musisi musisi muda berbakat lahir seperti The Groove, Sheila On 7, Ungu, Samsons, Peterpan, Maliq & d’esential dll.

Usaha yang dilakukan oleh para musisi senior dan praktisi musik seperti wartawan, pengamat, kritisi, radio, televisi dan bahkan pemerintah dalam memberi ruang dan motivasi bagi musisi muda untuk menghasilkan karya yang berkualitas terasa membawa hasil.

Yang ingin saya sampaikan adalah penikmat musik itu memiliki selera yang liar dan tak bisa didefisinikan karena dia senantiasa berubah. Adalah tugas praktisi musik untuk mengarahkan ke arah yang lebih maju dan berkualitas.

Kini setelah hasil dari sekian dekade tanda tanda ke arah yang lebih baik mendapat tantangan dari keadaan itu sendiri. Mulai dari ancaman ambruknya industri rekaman sampai pada ingin mencapai sukses secara instant dari musisi muda dengan mengikuti berbagai macam kontes yang tidak kredibel ditelevisi itu.

Ini semua ancaman bagi perkembangan musik Indonesia. Perusakanya seperti efek domino. Bajakan dimana mana membuat major label mudah melihat mana musik yang digemari dan mana musik yang kurang digemari terlepas dari apakah musik itu berkualitas atau tidak.

Kita tidak bisa menyalahkan publik penikmat musik dengan alasan memang selera mereka begitu karena sekali lagi selera musik itu bersifat bebas, tidak bisa ditetapkan dan tidak boleh dibiarkan lari kearah yang lebih rendah. Adalah tanggung jawab kita semua untuk membentuk selera musik masyarakat Indonesia kearah yang lebih berkualitas.

Itulah sebabnya saya memahami para Music Director radio radio di Jakarta yang mengeluarkan maklumat bahwa stasiun radio mereka tidak dapat memutar lagu lagu Kangen Band.

Bisa dimaklumi juga David Bayu Danangjoyo vokalis Naif pada acara ulang tahun majalah Rolling Stones yang ke-2 mengeluarkan statement:

Tega bener. Mau dikemanain musik Indonesia. ‘Kangen Band’ please deh jangan band-band kayak gitu lagi yang dikeluarin

Bagi outsider yang bukan praktisi musik mungkin statement diatas akan terasa keras dan sinis tapi bagi kalangan musisi itu bukan suatu kecemburuan terhadap sukses Kangen Band secara komersil tapi lebih kepada kekhawatiran terhadap arah perkembangan musik Indonesia.

Band band di Indonesia sudah silih berganti tampil kedepan yang jika mereka mendapatkannya dengan cara yang berkualitas maka mereka akan dihormati dan tidak akan mendapat cemooh dari musisi lain seperti Kangen Band.

Fenomena Kangen Band adalah renungan bagaimana perkembangan musik Indonesia itu bisa terpengaruh oleh keadaan industri musik yang ketika terpuruk akan mencari jalan pintas mencari keberlangsungan hidup dengan cara menjual musik minim greget kepada khalayak penikmat musik yang seleranya seharusnya dilindungi tapi malah dikorbankan

Peterpan

Group Band Peterpan terbentuk berawal dari pertemuan Uki dan Ariel yang pernah satu kelas di SMPN 14 Bandung. Tadinya mereka nggak saling kenal. Bahkan keduanya nyaris adu jotos. Maklum Ariel sebagai anak baru udah bikin Uki kesel. Soalnya Ariel kalau ke sekolah suka bawa gitar segala. Udah gitu ikut-ikutan bisa menggambar pula sama seperti Uki.

Dari sinilah, mereka mulai meengasah kemampuannya dalam bermusik. Bersama gank-nya Uki, Ariel akhirnya jadi teman baik plus patner nge-jamnya. Puncaknya, mereka tergabung dalm band yang menamakan dirinya Papermint. Sayang, band yang diharapkan bisa bicara banyak ini malah kandas di tengah jalan. Keduanya pun sepakat untuk jalan sendiri-sendiri.

Cerita berlanjut ketika band kesayangan Andika, Beat Jr (biasa membawakan lagu-lagu The Beatles) dan Stupid Cupid (biasa membawakan musik-musik beraliran Britpop), terpaksa bubar. Andika yang waktu itu cinta mati sama band membentuk sebuah band lagi. Uki yang jago main gitar sejak kenal Ariel dirangkulnya. Karena kekurangan personil Uki najak sohibnya di SMP, ariel. Sementara gara-gara dikenalin temen tetangganya Andika, doi pun ngajak gabung Indra dan Ari. Tahun 1997, band ini pun resmi terbentuk dengan nama Topi. Anggotanya terdiri dari Ariel (vocal/gitar), Andika (vocal/keyboard), Uki (gitar), Indra (bas), dan arie (drum).

Tadinya, formasi bakalan solid. Maklum awalnya semua personil rajin untuk latihan. Sayang, gara-gara ada personil yang nggak serius, band ini terpaksa bubar. Semua personil membuat band sendiri-sendiri. Memang dasar jodoh, Andika pun memanggil semua personil kembali.

Lagi-lagi sial. Saat hati sudah sreg, Arie cabut karena alasan pribadi. Reza dan Loekman yang pernah main bareng dengan indra dan kakaknya, digandengnya.

Karena udah ganti personil baru, maka namanya diganti menjadi Peterpan. Arti nama Peterpan simpel banget, band ini ingin terbang seperti cerita dongeng Peterpan.

Saat band udah solid, latihan pun sudah sering. Tinggal niat awal yang belum kesampaian, yakni tampil di kafe-kafe Bandung. Memang sih, band ini sempat manggung di kafe, tapi tidak terlalu sering.

Mereka maunya job terus mengalir, minimal menjadi home band salah satu kafe. Soalnya udah kepalang tanggung, mereka sudah banyak mengorbankan sekolahnya.

Pada saat itu job manggung mereka cari sendiri. Makanya, mereka berpikir butuh manajer khusus yang bisa mencarikan job. Andika ingat kalau band adiknya punya manajer. Mereka merangkul cowok yang punya nama Budi Soeratman ini. Tawar menawar pun terjadi antara para personil Peterpan dan Budi. Cowok yang akrab dipanggil Abang ini nggak ngerti musik yang dianut anak-anak Peterpan. Mungkin Abang nggak yakin.

Band gigi

Sejarah
Grup Band Gigi resmi dibentuk pada tanggal 22 Maret 1994. Pada awalnya Grup Band ini terdiri atas Armand Maulana (vokalis), Thomas Ramdhan (bassis), Dewa Budjana (gitaris), Ronald Fristianto (drummer), dan Baron Arafat (gitaris). Nama “Gigi” sendiri muncul setelah para personilnya tertawa lebar mengomentari nama “Orang Utan” yang nyaris dijadikan nama band ini. Dengan latar belakang musik yang beda-beda, mereka menggabungkannya ke dalam satu musik yang menjadi ciri khas Gigi. Album perdana yang bertema “Angan” dilempar ke pasara dengan dukungan dari Union Artist/Musica. Pada waktu itu Gigi belum membentuk suatu manajemen artis untuk mengelola kegiatan mereka sehingga untuk mempromosikan album perdana itu, mereka merilis dua singel yang sekaligus video klip, yaitu Kuingin dan Angan. Tetapi kedua lagu andalan tersebut tidak banyak mendongkrak angka penjualan. Kurangnya promosi dan tidak adanya pengelolaan manajemen menjadi penyebab utama kegagalan album pertama group musik ini. Akhirnya mereka membentuk Gigi Management supaya mereka jadi lebih profesional. Album kedua “Dunia” terbilang sukses di pasaran. Dengan mengandalkan lagu unggulan pertama “Janji”, yang terjual sekitar 400.000 copy serta meraih penghargaan sebagai “Kelompok Musik Terbaik”. Pada saat ini manajeman Gigi terjadi keretakan dengan Baron. Video klip lagu andalan kedua “Nirwana” dibuat tanpa adanya Baron. Pada September 1995, Baron secara resmi keluar dari Group Band Gigi. Kemudian diikuti keluarnya Thomas dan Ronald yang bulan November 1996. Akhirnya Grup Band Gigi hanya tinggal berdua saja namun tetap berusaha bertahan dan merekrut Opet Alatas (bassis) dan Budhy Haryono drumer). Formasi baru ini memberi warna baru pada Gigi. Pada tahun 1997 mereka mengeluarkan album keempat yang bertema 2×2 dengan menggandeng sejumlah musisi kondang, lokal dan dunia, Antara lain Billy Sheehan (Mr. Big) yang menyumbang permainan basnya yang dahsyat pada lagu mereka (Cry Baby), dan Indra Lesmana juga ikut menyumbang dalam lagu “Tractor”. Lagu andalan “Kurindukan” ternyata kurang direspon masyarakat. Keadaan ini tertolong sama dengan adanya tur 100 kota yang menampilkan duet Indra Lesmana dan Gilang Ramadhan sebagai pembukanya.

Sementara itu Thomas yang baru aja keluar dari rehabilitasi balik ke Jakarta untuk mulai main musik lagi. Thomas bahkan membikin kejutan sewaktu menjadi bintang tamu di konser GIGI “Satu Jam Bersama Gigi” dan konser Gigi di Bandung. Di konser itu dia main di lagu “Janji” dan “Angan”. Di konser itu, mereka serasa bernostalgia dengan Thomas. Yang spesialnya lagi, mereka ngebawain satu lagu yang lumayan jarang dibawain, yaitu Hasrat. Pada tanggal 22 Maret 1999 akhirnya Thomas masuk (lagi) ke Group musik Gigi. Tak lama setelah itu Gigi merilis album keenam yang bertema “Baik” pada bulan April 1999. Lagu andalan pertamanya adalah “Hinakah”.

ST12

skip to main | skip to sidebar
Senin, 20 Oktober 2008
Sejarah ST 12

Satu lagi grup band asal kota kembang Bandung menyemarakan belantika musik Indonesia. ST12, grup yang terdiri dari 4 personil, Pepep (Drum), Iman Rush (Guitar), Pepeng (Guitar), dan Charly Van Houtten (Vokalis) ini dibentuk sejak Januari 2005 lalu.

Grup yang bermimpi untuk menjadi band papan atas itu mengusung jenis musik pop alternatif. “Kami menganggap jenis musik ini akan lebih mudah didengar, easy listening. Dan pendengar pun tampaknya lebih memilih untuk mendengarkan lagu-lagu seperti itu,” ungkap Pepep mewakili teman-temannya.

Untuk menambah kualitas pada album perdana yang berjudul Aku Tak Sanggup Lagi, mereka melibatkan musisi Indra Utopia sebagai pengisi bass dan kang Iman GAIA untuk mengisi keyboard.

Awalnya grup band ini diprakarsai oleh Pepep dan Iman Rush. Pepep yang sebelumnya pernah tergabung dalam Oliv Band mengajak Pepeng, temannya yang sama-sama pernah tergabung dalam grup Oliv Band.

Ternyata jalan mereka tetap tidak semulus seperti yang dibayangkan. Ketiga pria ini merasa kesulitan untuk mendapatkan seorang vokalis yang memiliki kriteria suara yang sesuai dengan keinginan mereka. Maka sebuah audisi pun dilakukan. Saat audisi, ketiganya dipertemukan dengan Carly Van Houtten. “Charly memiliki karakter suara yang bagus dan cukup kuat. Selain itu dia memiliki latar belakang sebagai pengajar vokal. Jadi, tampaknya tidak sulit bagi dia untuk membawakan lagu saat audisi berlangsung,” papar Pepep.

Tidak berbeda dengan grup-grup band yang sedang naik daun sekarang ini, lagu-lagu mereka pun kebanyakan bertema tentang cinta. “Cinta sifatnya lebih fleksibel. Lebih universal. Bisa dinikmati oleh siapa saja, muda dan tua. Dan tema-tema seperti inilah yang akan terus laku di pasaran,” tambah Pepep.

Nama ST12 sendiri diambil dari nama jalan, Stasiun Timur No 12, yang merupakan lokasi studio tempat mereka kumpul. Di studio tersebutlah, keempat orang pemuda ini kerap kali berkumpul dan mengasah kemampuan mereka dalam bermusik. “Studio ini memang sering dijadikan tempat mangkal oleh teman-teman musisi lain, baik yang yunior, maupun senior di Bandung,” jelas Pepep mengenai sejarah berdirinya ST12.